Selasa, 10 Agustus 2010

KATA SERUPA TAPI TAK SAMA

KATA SERUPA TAPI TAK SAMA

  INGGRIS INDONESIA
     
to roll - rolling - rolled = menggelinding
roll = gelinding
rolling = penggelindingan
roller = pegelinding
 
to visit - visiting - visited = berwisata, mengunjungi
visit = wisata, kunjungan
visiting = pewisataan, pengunjungan
visitor = pewisata, wisatawan, pengunjung
visiting rolling = rolling wisata, penggelindingan wisata
 
to tour - touring - toured = bertamasya
tour = tamasya
touring = petamasyaan, ketamasyaan
tourer = petamasya, tamasyawan
 
to travel - travelling - traveled = berjalan, melakukan perjalanan
travel, travelling = perjalanan
traveler = pejalan
 
to trip - tripping - tripped = berkelana
trip = kelana, pengelanaan
tripping = kepengelanaan
tripper = pengelana
 
to adventure - adventuring - adventured = bertualang
adventure = tualang, petualangan
adverturer = petualang
adventurous = bersifat petualang
 
to journey - journeying - journeyed = mengembara
journey = kembara, pengembaraan
journeyer = pengembara
 
to voyage - voyaging - voyaged = berlayar
voyage = pelayaran
voyaging = kepelayaran
voyager = pelayar
 
to wander - wandering - wandered = melanglangbuana
wander = lalangbuana, pelalangbuanaan
wandering = kepelalangbuanaan
wanderer = pelalangbuana
 
to ramble - rambeling - rambeled = merambah
ramble = perambahan
rambeling = keperambahan
rambeler = perambah
 
to rove - roving - roved = merantau
rove = rantau, rantauan, perantauan
roving = keperantauan
rover = perantau
 
to range - rangging - ranged = merangkum
range = rangkum, rangkuman, perangkuman
rangging = keperangkuman
ranger = perangkum
 
to cruise - cruissing - cruised = menempuh
cruise = penempuhan
cuissing = kepenempuhan
cruiser = penempuh
 
to explore - exploring - explored = menjelajah
exploration = penjelajahan
explorer = penjelajah



FINE ART ™
FIRWANY INTERNETWORK ENTERPRISE — ARTICLES ON REFORM AND TRANSFORM
adalah marka-niaga, identitas produk dan properti Achmad Firwany


BLOG :
http://blog.firwany.co.cc
http://firwany.blogspot.com

FACEBOOK :
http://fb.firwany.co.cc
http://facebook.com/people/Achmad-Firwany/100000427899819

LINK :
http://firwany.blogspot.com/2010/08/kata-serupa-tapi-tak-sama.html
http://facebook.com/notes/logat-dan-bahasa/kata-serupa-tapi-tak-sama/163793947001644

TAG: kosakata, bahasa, linguistika, vocabulary, language, linguistics

Senin, 02 Agustus 2010

REDUNDANSI, EFIKASI, EFISIENSI
INFORMASI DAN KOMUNIKASI

LINGKUP : KOSAKATA. BAHASA. LINGUISTIKA. INFORMATIKA. TELEMATIKA. TEKNOLOGI INFORMASI. TEKNOLOGI KOMUNIKASI. TEKNOLOGI OTOMOTIV. FISIKA. DINAMIKA


REDUNDANSI, EFIKASI, EFISIENSI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
DAN DAMPAKNYA DALAM KEUANGAN


(C) 1996-2011 — Achmad Firwany


REDUNDANSI = PEMBOROSAN = KERUGIAN

Secara umum, keterbuangan ruang, waktu, materi, energi dalam suatu sistem teknologi, dinyatakan sebagai sesuatu "tajuk-lebih" (over-head), yang dalam istilah teknis, disebut sebagai redundansi (redundancy) atau pemborosan, yang dalam bahasa umum, dikenal sebagai sesuatu yang "diluar-perkiraan" atau "tak-terduga", dan dengan sendirinya melibatkan apa yang disebut sebagai "biaya tajuk-lebih" (over-head cost), atau dalam bahasa awam, "biaya tak-terduga".

Redundansi atau pemboroson atau tajuk-lebih, dengan kata lain, bisa dianggap atau dikatakan sebagai "kehilangan" atau "kerugian" (losses), yang semestinya tak perlu terjadi, tapi karena satu dan lain hal tak bisa dihindari, dan hanya dalam beberapa hal tertentu dan spesifik saja bisa ditiadakan atau diminimasi dengan beberapa konsekuensi resiko.

Dalam pengertian teknik, redundansi atau pemborosan, adalah ukuran kuantitas terbuang atau tak-digunakan (unused quantity) atau kuantitas tajuk-lebih (over-head quantity) sesuatu dalam masukan (input) dan atau keluaran (output), yang merupakan beda atau selisih antara kuantitas total (total quantity) dan kuantitas digunakan (used quantity), atau antara kuantitas aktual (actual quantity) dan kuantitas efektiv (effective quantity) yang disebut efikasi (efficacy), dalam satuan (unit) sama, yang dinyatakan dalam persentasi (%), yang bila dirumuskan dalam formula matematik adalah sbb.
  • redundansi = kuantitas total – kuantitas digunakan x 100 %
  • redundansi = kuantitas aktual – kuantitas efektiv x 100 %
  • redundansi = kuantitas aktual – kuantitas efikasi x 100 %
  • redundansi = kuantitas tajuk-lebih x 100%
  • redundansi = pemborosan [= kehilangan = kerugian]

Jadi makin besar kuantitas efektiv, makin tak redundan suatu sistem, dan sebaliknya. Dengan demikian, redundansi atau pemborosan bisa diperkecil atau ditekankan dalam dua cara, yaitu memperbesar kuantitas efektiv pada kuantitas aktual tetap, atau kebalikannya, memperbesar kuantitas aktual pada kuantitas efektiv tetap.

Apa yang terbaik untuk tiap orang lakukan sebagai peguna perangkat teknologi adalah ikut menekan biaya lebih ini atau memangkas kelebihan biaya, bukan malah memperbesar pemborosan, sedemikian sehingga, biaya yang kita keluarkan untuk penggunaan tiap perangkat teknologi adalah minimum. Tindakan ini dengan sendirinya samadengan usaha penghematan, untuk baik diri sendiri maupun para penyedia teknologi (technology provider).

Jika tiap orang memegang komitmen untuk melakukan penghematan secara individual, maka penghematan ini akan berdampak secara sosial dan nasional. Dengan kata lain, penghematan dilakukan oleh tiap warganegara akan berdampak pada penghematan negara. Tak ada sesuatu yang dianggap terlalu kecil untuk dilakukan, karena meski kecil tapi banyak akan menjadi besar. Efisiensi yang dilakukan secara individual di seluruh penjuru dunia akan berdampak secara global.



EFIKASI = KEDAYAGUNAAN = KEMANFAATAN

Secara umum, dalam pengertian teknik, efikasi (efficacy) atau kedayagunaan atau keefektivan (effectiveness) atau efektivitas, adalah ukuran kuantitas efektiv (effective quantity) sesuatu dalam masukan (input) dan atau keluaran (output), yang merupakan beda atau selisih antara kuantitas aktual dan kuantitas redundansi (redundancy quantity) atau kuantitas tajuk-lebih (over-head quantity), dalam satuan (unit) sama, yang dinyatakan dalam persentasi (%), yang bila dirumuskan dalam formula matematik adalah sbb.

  • efikasi = kuantitas aktual – kuantitas redundansi x 100 %
  • efikasi = kuantitas aktual – kuantitas tajuk-lebih x 100 %
  • efikasi = efektivitas = kedayagunaan [= kefaedahan = kemanfaatan]

Istilah ini sering disebut sebagai keefektivan (effectivness) atau efektivitas (effectivity) yang merupakan istilah teknis, karena dalam bahasa Inggris standard, "effectivity" ini tak ada, tapi "effectiveness". Tapi untuk orang Indonesia, istilah "efektivitas" atau "kedayagunaan" atau "dayaguna" saja lebih dikenal atau diterima ketimbang istilah "efikasi". Kerap kali untuk ini digunakan juga istilah "kefaedahan" atau "kemanfaatan" atau "manfaat" (benefit) saja.

Kata "efficacy" dalam bahasa Inggris sebenarnya berasal dari kata "effect", dari kata dalam bahasa Latin, "efficax", dari "efficio" yang berarti efek, dampak, atau akibat; dan kata "efficio" ini kemudian juga menjadi asal kata "efficiency" dalam bahasa Inggris.

Jadi makin kecil kuantitas tajuk-lebih (over-head), makin efektiv suatu sistem, dan sebaliknya. Dengan demikian, efikasi atau efektivitas bisa diperbesar atau ditingkatkan dalam dua cara, yaitu memperkecil kuantitas redundansi atau pemborosan atau tajuk-lebih pada kuantitas aktual tetap, atau kebalikannya, memperbesar kuantitas aktual pada redundansi atau pemborosan atau kuantitas tajuk-lebih tetap.

Tapi dalam efikasi atau efektivitas ini pun ada masalah tak dapat dihindari, yaitu bahwa kuantitas redundansi atau pemborosan atau kuantitas tajuk-lebih membesar atau bertambah dengan membesarnya kuantitas aktual. Makin besar kuantitas aktual, makin besar kuantitas redundansi atau pemborosan atau kuatitas tajuk-lebih diperlukan.

Sehingga satu-satu-nya cara dapat dilakukan adalah memperkecil kuantitas redundansi atau pemborosan atau kuantitas tajuk-lebih seminimum mungkin, karena tak bisa dibuat nol untuk suatu sistem dengan toleransi error (error tolerant), artinya sistem yang dapat mendeteksi kehadiran error dalam operasi.



EFISIENSI = KEHEMATAN = KEUNTUNGAN

Secara umum, dalam pengertian teknik, efisiensi (efficiency) atau kehematan, adalah rasio atau perbandingan antara hasil (result) dan upaya (upaya), atau antara keluaran berdayaguna (effective output) dan masukan (input), dalam satuan (unit) sama, yang dinyatakan dalam persentasi (%), yang bila dirumuskan dalam formula matematik adalah sbb.

  • efisiensi = kuantitas output efektiv / kuantitas input x 100 %
  • efisiensi = (kuantitas aktual – kuantitas redundansi) / kuantitas input x 100 %
  • efisiensi = efikasi / kuantitas input x 100 %
  • efisiensi = kehematan

Jadi jika kuantitas output efektiv samadengan kuantitas input, maka efisiensi 100%. Sedangkan, jika kuantitas output efektiv lebih-kecil daripada kuantitas input, maka efisiensi dibawah 100%. Sebaliknya, jika kuantitas output efektiv lebih-besar daripada kuantitas input, maka efisiensi diatas 100%.

Artinya, efisiensi bisa diperbesar atau ditingkatkan dengan dua cara, yaitu memperkecil kuantitas input pada kuantitas output efektiv tetap, atau kebalikannya, memperbesar kuantitas output efektiv pada kuantitas input tetap.

Dalam bisnis, dikenal istilah finansial yang disebut sebagai "cost to benefit ratio" (CTBR) atau "perbandingan biaya terhadap manfaat", yang tak lain adalah "kebalikan" (inverse) dari efisiensi, dimana makin kecil CTBR, makin menguntungkan suatu bisnis, sementara makin besar efisiensi, makin menguntungkan suatu sistem.

  • CTBR = cost to benefit ratio = cost / benefit x 100 % = biaya / manfaat x 100 %

sehingga

  • efisiensi = BTCR = benefit to cost ratio = benefit / cost x 100% = manfaat / biaya x 100 %

Didalam alam, pada beberapa tatanan tertutup (closed system) tertentu, yang merupakan tatanan pengubahan tenaga atau sistem konversi energi (energy coversion system), ternyata efisiensi tak bisa mencapai lebih 100%, bahkan tak bisa mencapai 100%, tapi hanya antara 70% s/d 90%.

Masalahnya adalah bahwa dalam tiap pengubahan satu bentuk energi ke bentuk energi lain, senantiasa dikuti oleh pengubahan energi itu menjadi energi panas yang tak diinginkan, dan sudah pasti bila pengubahan itu dimaksudkan untuk memperoleh energi panas itu sendiri, sehingga pengubahan satu bentuk energi ke bentuk energi panas adalah yang memiliki efisiensi tertinggi.

Masalah lain dalam sistem konversi energi adalah hukum alam menyatakan bahwa energi tak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan (energy can not be created and can not be destroyed), tapi energy hanya dapat diubah (energy can only converted) dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain, atau diubah menjadi materi, dan sebaliknya, sehingga efisiensi 100% tak mungkin dicapai, atau efisiensi ideal bisa dicapai hanya 99%.

Misalnya, pada sistem termodinamika, sains dan teknologi, hingga saat ini, tak bisa membuat satu pun mesin kendaraan otomotiv, seperti motor, mobil, kapal dan pesawat, yang memiliki efisiensi 100%, tapi hanya bisa mendekatinya, antara 70% s/d 90%, atau sekitar 80%. Jadi dalam otomotiv, efisensi 70% masih dinyatakan efisien.

Misal lain, begitu pula pada sistem elektronika, sains dan teknologi, hingga saat ini, tak bisa membuat satu pun perangkat elektronik dengan efisiensi 100%.

Sebagai contoh, dalam teknologi informasi dan komunikasi, katakanlah sitem komputer, telepon, telegraf, radio, televisi, internet, dlsb, efisiensi tak pernah bisa dicapai 100%, karena selalu dibutuhkan sesuatu untuk pemeriksa error (error checking), untuk kekeliruan, kerusakan, atau kehilangan, yang mungkin terjadi dalam data dan atau informasi, ketika berlangsung perekaman dan pengambilan (recording and retrieving) dan ketika berlangsung pengiriman dan penerimaan (transmitting and receiving) data dan atau informasi tersebut.

Dalam teknologi informasi dan komunikasi, keberadaan pemeriksa error ini dinyatakan sebagai pemborosan atau redundansi yang tak dapat dihindari, yang menyita sebagian ruang jalur komunikasi dan waktu komunikasi, sehingga tampungan ruang penyimpanan (storage space capacity) dan kurun waktu pengiriman dan penerimaan (duration of transmission and reception) tak dapat dimanfaatkan 100% untuk data dan atau informasi, karena ia harus memberi tempat dan waktu untuk koreksi error.

Jalan keluar terbaik adalah bagaimana meminimasi error yang mungkin terjadi dan memperkecil ruang dan waktu pemeriksaan error.

Selanjutnya pada uraian berikut akan kita bahas bagaimana menerapkan efisiensi dalam informasi dan komunikasi melalui bahasa tulisan (written langguage) sebagai komplemen dari bahasa lisan (spoken language). Akan kita lihat bagaimana efisiensi dalam bahasa tulisan ini bisa menghemat biaya atau memangkas pengeluaran keuangan yang tak perlu, atau dengan kata lain menghidari pemborosan keuangan melalui penghematan bahasa tulisan.



SINGKATAN DAN KEPENDEKAN
ABBREVIATION AND SHORT FORM

Pada intinya salah satu konsep dasar, ditekankan dan penting dalam teknologi informasi dan komunikasi (ITC) adalah efisiensi dan efektivitas, bukan pemborosan | redundansi, kecuali bila sangat terpaksa, seperti misalnya untuk koreksi error, yang disebut "cyclic redundancy check" (CRC), dan ini pun diupayakan seminimum mungkin, jika perlu hanya 1 bit (binary digit), yang disebut "longitudinal parity check" (LPC).

Efisien dimaksud disini adalah efisien dalam: "space, time, matter, energy, and cost" (STIMEC), dan efektiv dimaksud adalah efektiv dalam informasi dan komunikasi.

Pola penyederhanaan tulisan melalui singkatan (abbreviation) sebenarnya telah diterapkan lama, ketika telegraf dan telegram diperkenalkan.

Banyak orang sekarang mungkin menganggap bahwa penghematan kata dan penyingkatan kata sudah "relevan" dan tak diperlukan lagi pada masa kini, karena lebar-sabuk (band-width) jalur komunikasi sudah tak sesempit dulu dan kemampuan komputer menyimpan data dan informasi sudah sangat luar biasa karena kerapatan atau densitas data (data density) dan tampungan atau kapasitas media (media capacity) milyaran kali lipat dibandingkan ketika telegraf baru diperkenalkan.

Ini satu anggapan sangat keliru, karena sampai kapan pun efisiensi tetap dibutuhkan dan diperlukan tanpa mengenyampingkan efektivitas, seberapa persen pun efisiensi, ia tetap berarti (significant).

Berikut adalah contoh singkatan kata untuk efisiensi dalam informasi dan komunikasi tulisan, yang dapat digunakan dalam pesan e-mail dan SMS (short mobile message), menggunakan pola umum pembentukan singkatan, yaitu mengambil inisial kata atau suku-kata dan membuang huruf-hidup (vowel).

singkatan | kata lengkap
bbrp = beberapa
blm = belum
blmn = bilamana
dgn = dengan
dll = dan lain-lain
dlm = dalam
dlsb = dan lain sebagainya
dmn = dimana
dpt = dapat
dr = dari
dsb = dan sebagainya
hrs = harus
jd = jadi
jk = jika
kel = keluarga
knp = kenapa
kpd = kepada
krn = karena
mjd = menjadi
mk = maka
mkn = makin
org = orang
pd = pada
sbb = sebagai berikut
sbg = sebagai
sdh = sudah
sdr = saudara
sgr = segera
shg = sehingga
sjk = sejak
spt = seperti
stlh = setelah
tdk = tidak
thdp = terhadap
thn = tahun
tp = tapi
tsb = tersebut
ttg = tentang
ttk = titik
utk = untuk
yg = yang
yth = yang terhormat

Alasan penulisan kata dalam bentuk lengkap hanyalah kelengkapan itu sendiri, untuk penjelasan batasan atau defenisi, uraian, ulasan, kupasan, bahasan, plus "aestetika", lain tidak. Memang dalam beberapa hal tertentu efisiensi ini dilanggar untuk kepentingan informasi dan komunikasi itu sendiri, tapi ini sifatnya tertentu dan terbatas.

Jadi untuk anda, silahkan menggunakan singkatan dan kepedekan seperti pada daftar diatas dalam penyampaian informasi dan komunikasi untuk alasan efisiensi. Sejauh tak ada perubahan dalam "kandungan" (content) informasi dan tak mengubah arti, tak ada alasan dan larangan untuk tak menggunakannya.

Berikut adalah beberapa singkatan internasional dan "slank idiom" yang juga bermanfaat untuk efisiensi, jadi juga silahkan digunakan dalam pesan e-mail dan SMS.

singkatan | kata lengkap atau artinya
12 = I want to
1 = want
2 = to
2U = to you
4 = for
4GET = forget
4JJI = ALLÄH [bacaan Arabik dari kanan ke kiri]
4U = for you
ASAP = as soon as possible
BTW = by the way
FYI = for your information
GBU = God bless you
IMO = in my opinion
N = and
RU = are you
TIA = thanks in advance
TQ = thank you
U = you
UR = you are
Y = why
acc = acceptance
ad inf = ad infinitum, to infinity
ad int = ad interim, in the meantime
add = addendum, additional
adr = address
ea = each
ed = edied, edition, editor
eff = efficiency
eg = exempli gratia, for example
enc, encl = enclosed
est = estimated
et al = et alli, and all, and others
et seq = et sequens, and the following
etc = et cetera, and others
ez = easy
nn = nomen nensio, no name

dan masih banyak lagi, tapi untuk sementara ini dulu, untuk lainnya silahkan cari sendiri.

______________________________



BENTUK JAMAK DALAM BAHASA INDONESIA
PLURAL FORM IN INDONESIA LANGUAGE

Hampir 90 persen bahasa alami (natural language) di dunia memiliki bentuk kata jamak atau rangkap [jamaa’ < Arabiyan, plural, multiple < Inggris] yang berarti banyak, terutama untuk kata-benda atau "nama" [`ismun, mashdar (kata-benda yang berasal dari kata-kerja) < Arabiyan, noun, name < Inggris].

Bentuk jamak ini merupakan kebalikan dari bentuk sendiri [mufrad < Arabiyan, singular, single < Inggris]. Demikian pula dalam bahasa Indonesia. Bahkan dalam rumpun bahasa Semitik, dimana bahasa Arabiyan adalah satu diantaranya, mengenal bentuk dua atau ganda [mutsanna < Arabiyan, dual, double < Inggris], yang tak selalu ada dalam rumpun bahasa lain.

ARABIYAN


rumpun bahasa: SEMITIK
mufrad
mutsanna
jamaa’
`ilaahun `ilaahataani `aalihaatun
`amiyrun `amaraani `umaraa`u
’aalimun ’aalimaani ’ulamaa`u
kitaabun kitaabaani kutuwbun
harfun harafaani huruwfun
ruwhun ruwhaani `arwahun
nuwrun nuwraani `anwarun

ENGLISH


rumpun bahasa: ARYAN
singuar | single
dual | double
plural | multiple
god two gods gods
governor two governors governors
scientist two scientists scientists
scripture two scriptures scriptures
book two books books
letter two letters letters
characater two characters characters
spirit two spirits spirits
light two lights lights

INDONESIA


rumpun bahasa: MELAYU
sendiri | tunggal
dua | ganda
jamak | rangkap
tuhan dua tuhan tuhan tuhan
pemerintah dua pemerintah pemerintah pemerintah
ilmuwan dua ilmuwan ilmuwan ilmuwan
kitab dua kitab kitab kitab
buku dua buku buku buku
huruf dua huruf huruf huruf
ruh, roh dua ruh ruh ruh, arwah
cahaya dua cahaya cahaya cahaya

Jika kita perhatikan perbandingan contoh kata-kata untuk tiga bahasa diatas, maka tampak bahwa bahasa-bahasa dalam rumpun Semitik lebih rumit daripada yang dari rumpun Arya [Latin, Spanyol, Jerman, Belanda, Perancis, Inggris, dll], dan yang dari rumpun Melayu [Malaysia, Indonesia, Brunei, dll] adalah yang paling sederhana.

Tapi meski sederhana, tapi tidak hemat atau tak efisien alias boros dalam bentuk jamak, karena melakukan perulangan penuh kata (full repetition of word).

Jika kita tinjau dari teknologi informasi dan komunikasi (ITC), dimana bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Arabiyan, dalam bentuk bahasa tulisan (written language), maka bahasa Indonesia akan membutuhkan: [tujuh utama diantaranya]

  • tampungan ruang penyimpanan (storage space capacity) relativ jauh lebih besar.
  • durasi waktu pengetikan dan penghapusan (typing and erasing duration) relativ jauh lebih lama.
  • durasi perekaman dan pengambilan (recording and retrieving duration) relativ jauh lebih lama.
  • durasi penayangan dan pencetakan (displaying and printing duration) relativ jauh lebih lama.
  • durasi waktu pengiriman dan penerimaan (transmitting and receiving duration) data relativ jauh lebih lama.
  • koreksi error jauh lebih banyak.
  • biaya relativ jauh lebih mahal!!!



TAK HEMAT DAN PEMBOROSAN BIAYA

Jadi, sekali lagi, bahasa tulisan Indonesia (Indonesian written languge) betul sangat tak efisien, dan yang paling memberatkan adalah bahwa ia menelan biaya jauh lebih besar alias mahal atau tak ekonomis, baik biaya administraitiv dan operasional maupun biaya teknis. Belum lagi dihitung pemborosan waktu dan tenaga terbuang percuma. Padahal Indonesia adalah negara miskin, dan komputer, internet dan biaya telekomunikasi relativ sangat mahal bagi kebanyakan orang Indonesia dengan penghasilan menengah kebawah.

Sangat mengherankan adalah bahwa sudah beberapa kali berganti menteri, kabinet, bahkan presiden atau pemerintahan, tak ada satu pun bejabat berwenang perduli. Jadi menurut pandangan saya, orang Indonesia biar miskin tapi sombong [atau bodoh ya???]

Atau menteri menanggap ini bukan pekerjaannya?! Padahal menteri bisa menugaskan staf bawahannya untuk membuat surat keputusan dan tinggal tandatangan. Apa dipikirnya ini tak menghasilkan uang??? Ataukah ia tak menyadari arti efisiensi??? Padahal ia mungkin sangat mengerti arti defisit keuangan negara???

Waktu pergantian kabinet terakhir, penulis pernah mengirim e-mail resmi ke MENKOMINFO (menteri komunikasi dan informasi) dan para deputy beliau, menawarkan diri sebagai konsultan atau advisor, tapi hanya diminta mengirim CV (curriculum vitae) oleh sekretaris menteri, dan selanjutnya tak ada kabarnya. [Apa dipikir saya bakal minta duit kali ya?!]

Saya pribadi berani bertaruh bahwa jika dilakukan efisiensi terhadap bahasa tulisan Indonesia, untuk bentuk jamak saja, maka akan dapat dihemat atau dipangkas pengeluaran keuangan, di bidang korespondensi, informasi dan komunikasi, baik untuk rakyat maupun negara, lebih 60 persen!!! [Bisa dihitung secara matematik.]

Celakanya, kalau gagasan pemikiran saya ini diambil oleh orang yang punya kuasa, lalu diklaim sebagai ide dan proposal dia, lalu diterapkan oleh pemerintah, maka ia akan dapat nama dan dapat uang, dan saya dilupakan.

Kasus seperti ini telah terjadi, ketika beberapa tahun silam saya mengusulkan kepada pemerintah untuk mengganti semua kartu strip magnetik transaksi keuangan (magnetic strip card for financial transaction) dengan kartu serpih elektronik (electronic chip card). Pada 2005 lalu gubernur BI (Bank Indonesia) telah mengeluarkan keputusannya bahwa pada 2008 semua kartu transaksi keuangan sudah harus menggunakan kartu serpih elektronik. Tak ada seorang pun perduli bahwa pada tahun 2000, proposal saya tentang ini masuk ke BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

Jadi barangkali saya yang bodoh!!! Tapi tak apa kalau saya ditolak bekerja untuk negara. Yang penting saya bekerja untuk Tuhan, dan tuhan akan memberikan ganjaran jauh lebih besar daripada apa yang dapat diberikan manusia.




CARA PENGEHEMATAN
 

CARA PERTAMA

Sebelum keluar peraturan pemerintah tentang "ejaaan baru" dan "ejaaan yang disempurnakan" dalam bahasa Indonesia, sebenarnya bahasa Indonesia menggunakan konvensi pemakaian angka 2 untuk bentuk jamak, sebagai contoh berikut.

sendiri | tunggal
jamak | rangkap
tuhan tuhan2 = tuhan tuhan
pemerintah pemerintah2 = pemerintah pemerintah
ilmuwan ilmuwan2 = ilmuwan ilmuwan
kitab kitab2 = kitab kitab
buku buku2 = buku buku
huruf huruf2 = huruf huruf

Menurut hemat saya, cara lama ini jauh lebih hemat daripada cara baru digunakan sekarang yang menggunakan perulangan, dimana cara lama, efisiensinya setara dengan cara pembentukan plural regular dalam bahasa Inggris, yang hanya ditambah "s" atau "es", kecuali beberapa kata tertentu yang mengalami perubahan konsonan, seperti "wife" menjadi "wives".

Dalam cara digunakan sekarang ini, makin panjang kata, makin boros, karena perulangannya makin panjang. Jika kita rumuskan dalam formula matematik, maka:

  • cara lama: n' = n + 1
  • cara baru: n' = n x 2 + 1

dimana,

  • n adalah banyak huruf dalam kata bentuk sendiri.
  • n' adalah banyak huruf dalam kata bentuk jamak.

Dengan demikian, pemborosan huruf pada cara baru adalah sebesar "n" sampai "n x 2". Sehingga makin banyak kata jamak dalam suatu tulisan berbahasa Indonesia, makin boros penulisan, makin menyita waktu dan tenaga, dan makin mahal biaya operasi, transmisi dan resepsi, dan menyita banyak jalur komuikasi. Berikut adalah contoh perbandingan dua cara tersebut.

cara lama
cara baru
n + 1 n' n x 2 +1 n'
kura2 5 kura-kura 9
kura2 kura2 11 kura-kura kura-kura 19
kura4 5 kura-kura kura-kura 19



CARA KEDUA

Sudah lama dalam bahasa Indonesia dikenal kata "para" yang mengandung arti lebih, seperti pada contoh berikut.

sendiri | tunggal
jamak | rangkap
hadirin para hadirin = hadirin hadirat
ilmuwan para ilmuwan = ilmuwan ilmuwan
pria para pria = pria pria
tamu para tamu = tamu tamu
wanita para wanita = wanita wanita

Satu kelemahan penggunaan kata "para" ini adalah bahwa ia mengadung arti "lebih" ketimbang "banyak", sehingga penggunaannya terbatas atau tak dapat digunakan untuk semua kata, seperti misalnya "para kitab" atau"para buku".


CARA KETIGA

Sejak lama bahasa Indonesia telah mengenal perulangan suku-kata pertama untuk menyatakan bentuk jamak. Untuk membedakannya, cara ini saya namakan "cara hemat", seperti contoh berikut.

cara hemat
cara boros
n + 2 n' n x 2 +1 n'
beberapa 8 berapa-berapa 13
lelaki 6 laki-laki 9
tetamu 6 tamu-tamu 9
tetapi 6 tapi-tapi 9

Jika suatu kata dimulai oleh huruf hidup (vowel), maka berlaku konvensi seperti contoh berikut.

cara hemat
cara boros
n + 1 s/d n + 2 n' n x 2 +1 n'
eanai, e-anai, enanai 5, 6 anai-anai 9
eanak, e-anak, enanak 5, 6 anak-anak 9
eanting, e-anting 7, 8 anting-anting 13
ilalang 7 alang-alang 11
seeakan 7 seakan-akan 11
seeenaknya 10 seenak-enaknya 14
seeolah 7 seolah-olah 11

Bandingkan cara hemat ini dengan cara lama diatas, bedanya hanya satu sampai tiga huruf saja.

cara hemat
cara boros
n + 2 n' n x 2 +1 n'
kekura 6 kura-kura 9
kekura kekura 10 kura-kura kura-kura 19
kekekura 8 kura-kura kura-kura 19

Berdasarkan pada perhitungan banyak huruf, jelas bahwa cara baru ternyata jauh lebih boros daripada cara lama atau cara hemat telah dikemukakan diatas. Dan cara lama atau cara hemat samasekali tak mengubah arti atau membuat kata kehilangan arti, atau dengan kata lain, kata tersebut tetap informativ.

Bilamana penggunaan angka 2 dianggap atau dirasakan mengganggu dalam tulisan atau pembacaan, maka solusi terbaik adalah penggunaan cara hemat yang menggunakan perulangan suku-kata pertama. Menurut saya ini adalah jalan tengah terbaik, dan terutama adalah karena ia "efisien dan efektiv" dalam informasi dan komunikasi.



PEMBAKUAN

Agak aneh tapi nyata, jika saya menggunakan cara hemat ini dalam tulisan atau artikel, banyak orang tak mengerti maksudnya, menganggapnya janggal atau bahkan tak baku (non standard). Padahal mereka menerima bentuk ini untuk sebagian kata tertentu [seperti: lelaki, tetapi, beberapa, ilalang], tapi kenapa menolak untu kata lainnya?

Dalam pandangan saya, secara alami, jika sesuatu berlaku secara teratur (regular) untuk banyak kata, maka berarti itu berlaku umum untuk kata lain, kecuali untuk sebagian kecil kata tertentu, yang disebut sebagai "pengecualian" atau keadaan ketakteraturan (irregular).

Dengan demikian, menurut pendapat saya, pembentukkan kata bentuk jamak menggunakan perulangan suku-kata pertama dalam bahasa Indonesia adalah baku (standard), dan tak perlu dikeluarkan suatu ketentuan baru atau keputusan standarisasi, kecuali untuk sekedar menguatkan keberlakuan (validity) hal tersebut.

Jadi berbagai bentuk jamak kata lain dapat dibentuk dengan pola ini, seperti pada contoh berikut.

cara hemat
cara boros
n + 2 n' n x 2 +1 n'
beburu 6 buru-buru 9
hehati 6 hati-hati 9
lelangit 8 langit-langit 13
memalu 6 malu-malu 9
pepura 6 pura-pura 9
reragu 6 ragu-ragu 9
sekekonyong 11 sekonyong-konyong 17
tetanggung 10 tanggung-tanggung 17
tetiba 6 tiba-tiba 9


cara hemat
cara boros
n + 2 n' n x 2 +1 n'
kekura 6 kura-kura 9
memata 6 mata-mata 9
peparu 6 paru-paru 9

Berdasarkan pada uraian dan penjelasan saya diatas, saya menghimbau semua orang untuk menerapkan cara hemat tersebut dalam informasi dan komunikasi, dan tak perlu menunggu keputusan pemerintah RI. Cepat atau lambat, jika dibiasakan. maka akan menjadi hal biasa. Peran media masa, baik cetak maupun elektronik, akan sangat membantu mensosialisasikan hal ini.

Untuk identifikasi dalam terminologi, cara hemat ini saya namakan "cara repetisi dan multiplikasi" [atau barangkali "cara Firwany", untuk mengingat saya yang pertama kali mengajukan cara penghematan ini].



BAHASA DAERAH

Sebenarnya apa yang saya lakukan hanyalah menasionalisasi "pola" (pattern) bahasa daerah, yang dalam hal ini adalah bahasa daerah "Banjar" (Banjarnese),, yang sebenarnya adalah satu dialek dalam rumpun bahasa Melayu, sehingga bisa disebut sebagai "bahasa Melayu Banjar" (Banjar Malayan language).

Berdasarkan pada pengamatan saya, bahasa daerah Banjar sangat efisien dan efektiv. Pola perulangan suku-kata pertama, selain dapat menunjukan peringkat nominativ dan superlativ dalam kata-sifat atau keadaan (nominative and superlative degree in adjective), juga berlaku untuk menghindari perulangan seluruh kata, seperti pada banyak contoh berikut.

bentuk hemat | bentuk boros
babinian = bini-bini
babujuran = bujur-bujur
babukahan = bukah-bukah
cacobaan = coba-coba
gaganangan = ganang-ganang
gagaringan = garing-garing
gagawian, gagawaian = gawi-gawi
gagayan = gaya-gaya
gagegeran = geger-geger
kakanakan = kanak-kakak
lalakian = laki-laki
lalewa > balalewa = lewa-lewa > balewa-lewa
raragu = ragu-ragu
raraunan = raun-raun
tatanggung = tanggung-tanggung
dll.

atau pada:

bentuk hemat | bentuk boros
babarapa = barapa-barapa
kakura = kura-kura
lalangit = langit-langit
papura = pura-pura
tatahu = tahu-tahu
tatamu = tamu-tamu
tatayuh --> satatayuhnya = tayuh-tayuh
dll.

Jika huruf pertamanya bukan huruf-mati (konsonan), terjadi perulangan huruf-hidup (vowel), seperti pada:

bentuk hemat | bentuk boros
a-anai = anai-anai
a-anakan = anak-anakan
a-asaan = asa-asaan
a-imut = imut-imut
a-undur = undur-undur
e-anting = anting-anting
ila-lang, hala-lang = alang-alang
dll.

Penyisipan ini juga bisa digunakan untuk menyatakan bentuk jamak, banyak dan berulang-kali (repetitive), seperti "s", "es", "ies" atau "oes" dalam bahasa Inggris:

bentuk hemat | bentuk boros
bajajalanan = berjalan-jalan
bararaunan [round < Ing.] = berkeliling-keliling
gagamatan = berpelan-pelan, dengan cara pelan
kakawalan = kawan-kawan, para kawan
dll.

Bisa juga berarti agak, sering dan berulang-kali:

bentuk hemat | bentuk boros
gagaringan = agak gering, sering gering, sakit-sakitan
gagitiran = agak gemetar, sering gemetar
laladaran = agak demam, sering deman
dll.

Bisa juga berarti saling (mutual) dan berulang-kali.

bentuk hemat | bentuk boros
bakakesahan = saling kisah, kisah-mengisahkan, saling bercerita
balelekan = saling-lirik, lirik-melirik
bapapisuhan = saling caci, caci-mencaci
batatawakan = saling lempar, lempar-melempar
batatawaran = saling tawar, tawar-menawar
batatimpasan = saling bacok, bacok-membacok
batatiwasan = saling menyalahkan, salah-menyalahkan
dll.

Bisa juga berarti "bak", "tampak seperti" (seem-like, look-like):

bentuk hemat | bentuk boros
babungulan = seperti bodoh
gagawaian, gegawian = seperti bekerja
gagilaan = seperti gila
dll.

Tapi tahukah anda bahwa dalam bahasa Banjar, tak ada kata-ganti untuk orang-ketiga jamak [mereka], kecuali "bubuhan": bubuhan-nya, bubuhan subarang, bubuhan taluk, bubuhan sungai . . ., bubuhan . . ., dll., dimana bubuhan bererati mereka atau kelompok orang. Menyebut semua atau seluruh: samuaan, samunyaan atau sabarataan.

Demikian uraian dan pembahasan ini, untuk sementara saya akhiri sampai disini, saya selalu berharap bahwa semoga tulisan saya bermanfaat untuk semua, sebagai bekal dasar untuk jadi lebih bijaksana; tak ada manusia sempurna, sehingga tak ada seorang pun pernah luput dari kekeliruan, kesalahan, dan kealpaan; begitu pula saya; apalagi topik dibahas, diulas, dan dikupas bukan bidang studi dan dalam lingkup profesi saya; dan saya selalu dengan rendah hati mohon maaf dan harap maklum bila ada salah kata dan atau salah ketik. Terimakasih atas perhatiannya.





Achmad Firwany
__________________________________________________




BIBLIOGRAFI
  • Cofron, James W. The IBM PC Connection. Osborne - McGraw-Hill, Inc., 1984.
  • Dvorak, John C., and Nick Anis. Dvorak's Guide to PC TeleCommunications. Osborne - McGraw-Hill, Inc., 1990.
  • Johansyah, Achmad Firwany, “Informatika dan Teori Informasi bagian 1”, Jakarta: PT. Penerbitan Sarana Informatika, majalah InfoKomputer, Vol. I No. 11, Nopember 1987.
  • Johansyah, Achmad Firwany, “Informatika dan Teori Informasi bagian 2”, Jakarta: PT. Penerbitan Sarana Informatika, majalah InfoKomputer, Vol. I No. 12, Desember 1987.
  • Johansyah, Achmad Firwany, “Informatika dan Teori Informasi bagian 3”, Jakarta: PT. Penerbitan Sarana Informatika, majalah InfoKomputer, Vol. II No. 1, Januari 1988.
  • Kruglinski, David. Guide to IBM PC Communications. Osborne - McGraw-Hill,I nc., 1984.
  • Martin, James, with Joe Leben, the Arben Group, Inc., Data Communication Technology, the Arben Group, Inc., 1988.
  • Roddy, Dennis, and John Coolen. Electronics Communications. 2nd ed., Prentice-Hall, Inc., 1981.



REFERENSI

  • Chandor, Anthony, John Graham, and Robin Williamson, A Dictionary of Computers, Reprinted ed., UK, England, Middlesex, Harmmonsworth: Penguin Books Ltd., 1973.
  • Chandor, Anthony, The Penguin Dictionary of Microprocessors, Reprinted ed., UK, England, Middlesex, Harmmonsworth: Penguin Books Ltd., 1982.
  • IEEE Computer Society, Standards Coordinating Committee of the, IEEE Standard Computer Dictionary: A Compilation of IEEE Standard Computer Glossaries, USA, NY, New York: The Institute of Electrical and Electronics Engineers Inc., 1990.
  • IEEE Standards Coordinating Committee on Definitions, IEEE Standard Dictionary of Electrical and Electronics Terms, USA, NY, New York: The Institute of Electrical and Electronics Engineers Inc., 1988.
  • Kondo, Herbert, (Eds.), The New Book of Popular Science, USA, Connecticut, Danbury: Grolier Inc., 1981.
  • Mandel, Siegfried, Dictionary of Science, 3rd printing, USA, NY, New York: Dell Publishing Co., Inc., 1972.
  • Osman, Tony (Consultant Ed.), New Encyclopaedia of Science, Spain, Cordoba: Purnel Reference Books, 1979.
  • Pitt, Valerie H. (Ed.), The Penguin Dictionary of Physics, Reprinted ed., UK, England, Middlesex, Harmmonsworth: Penguin Books Ltd.,1980.
  • Uvarov, E.B., D.R. Chapman, and Alan Isaacs. A Dictionary of Science, Reprinted ed., UK, England, Middlesex, Harmmonsworth: Penguin Books Ltd., 1972.
  • Watson, Jane Werner, The World of Science, USA, NY, New York: Golden Press Inc., 1966.


__________________________________________________


(C) 1996-2011 — Achmad Firwany

HAKI (Hak Atas Kepemilikan Intelektual) karya intelektual ini dilindungi oleh Undang-Undang Negara Republik Indonesia, dan juga oleh konvensi dan provisi internasional atas karya intelektual di tiap negara di seluruh dunia.

Tak sebagian pun dari dokumen atau pagina jala ini boleh disalin, diduplikasi, direplika, direproduksi, ditransmisi, ditranskripsi, ditranslasi kedalam bentuk bahasa apapun atau disimpan dalam satu sistem retrieval apapun; dalam bentuk apapun atau dalam cara apapun, mencakup tapi tak terbatas pada cara optik, elektromagnetik, elektronik, elektromekanik, atau lainnya; untuk maksud dan tujuan komersial; tanpa pemberitahuan dan perkenanan tertulis terlebih dulu dari pemilik hak atas karya intelektual ini.

Tiap kutipan atas artikel ini harap mencantum dengan jelas sumber tulisan.



FINE ART ™
FIRWANY INTERNETWORK ENTERPRISE — ARTICLES ON REFORM AND TRANSFORM
adalah marka-niaga, identitas produk dan properti Achmad Firwany

BLOG :
http://blog.firwany.co.cc
http://firwany.blogspot.com

FACEBOOK :
http://fb.firwany.co.cc
http://facebook.com/people/Achmad-Firwany/100000427899819

LINK :
http://firwany.blogspot.com/2010/08/redundansi-efikasi-efisiensi-informasi.html
http://facebook.com/notes/logat-dan-bahasa/redundansi-efikasi-efisiensi-informasi-dan-komunikasi/163772887003750


TAG : kosakata, bahasa, linguistika, informatika, telematika, teknologi informasi, teknologi komunikasi, teknologi otomotiv, fisika, dinamika, vocabulary, language, linguistics, informatics, telematics, information technology, communication technology, physics, dynamics